Membingkai Cahaya Lewat Lubang Jarum

Fotografi selalu diidentikkan dengan hobi yang membutuhkan banyak uang. Harga kamera yang selangit masih harus ditambah lagi dengan harga lensa yang juga tak sedikit. Pamor ini serta-merta membuat fotografi terkesan elit dan hanya untuk orang-orang berpunya. Tapi sebenarnya, tak butuh modal besar untuk mengabadikan momen. Hanya butuh sebuah kamera lubang jarum dan niat belajar untuk membingkai cahaya. Tertarik?

 

Membuat, bukan membeli!”

 

Begitulah moto dari Komunitas Lubang Jarum atau sering disebut KLJ. Komunitas Lubang Jarum membuktikannya dengan memotret tanpa menggunakan kamera. Pertama kali diinisiasi Ray Bachtiar Dradjat lewat buku berjudul Memotret dengan Kamera Lubang Jarum, tak perlu waktu lama bagi komunitas pencinta kamera lubang jarum ini untuk bermunculan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Salah satunya, di Pekalongan.

Di Pekalongan, Komunitas Lubang Jarum (KLJ) pertama kali terbentuk sekitar 10 tahun silam; diprakarsai oleh  Budi Purwanto. KLJ Pekalongan awalnya hanya bermula dari ketertarikan Budi mengulik seni foto menggunakan lubang jarum. Sebagai guru, Budi menularkan bekal ilmu memotret ini kepada murid-murid SMPN 10 Pekalongan. Namun, antusiasme yang tinggi membuat komunitas ini kian besar. Hingga saat ini, anggota yang terdata pada salah satu akun sosial media mereka mencapai 150 orang.

KLJ Pekalongan biasanya melakukan kolaborasi dengan komunitas atau sekolah-sekolah. Plaza dan Museum Pekalongan pernah menjadi tempat workshop dari komunitas ini. Selain mengadakan workshop, KLJ juga kerap memamerkan hasil karya mereka pada event-event di Pekalongan, misalnya pada Pekan Batik.

 

Setiap tahunnya, di bulan April, Komunitas Lubang Jarum Pekalongan juga ikut berpartisipasi dalam acara Worldwide Pin-Hole Day. Acara ini dikhususkan bagi para pencinta kamera lubang jarum untuk berkumpul dan hunting foto bersama. Hasil foto tersebut kemudian akan diunduh ke laman pinholeday.org–wadah besar bagi komunitas-komunitas kamera lubang jarum untuk saling belajar dan berinteraksi.

 

Komunitas Lubang Jarum di Pekalongan membuka diri untuk siapapun yang tertarik bermain dan belajar menggunakan kamera unik ini. Tenang, sebelumnya kita akan diajari cara membuat kamera lubang jarum dengan berbagai jenis alat. Kamera lubang jarum bisa dibuat dari paralon, kaleng bekas rokok, kaleng makanan, bahkan kardus sepatu. Prinsip sederhananya, kamera yang dibuat haruslah kedap cahaya. Satu-satunya cahaya yang boleh masuk hanya melalui sebuah celah kecil seukuran lubang jarum.

 

Teknik memotret dengan kamera lubang jarum membutuhkan kesabaran tinggi. Kamera bisa saja diletakkan di suatu tempat untuk beberapa jam, bahkan beberapa hari. Untuk itu, kamera lubang jarum memang paling cocok untuk digunakan mendokumentasikan objek yang tidak bergerak; seperti gedung-gedung ikonik di seputar Pekalongan. Objek favorit yang sering dijadikan objek foto oleh anak-anak KLJ Pekalongan adalah bangunan-bangunan tua di sekitar Lapangan Jetayu, Mesjid Agung, dan Klenteng Pho An Thian.

Setelah cahaya dari lubang jarum melukis negatif film di dalam kamera, tiba waktunya mencetak film di ruang gelap! Setelah tahapan tersebut, barulah foto dari kamera lubang jarum bisa dipajang. Tentu saja, kecakapan ini tidak datang serta-merta. Semua tahapan butuh dipelajari secara manual. Tidak instan, tapi tentu saja seru dan mengasyikkan.

 

Kecakapan seorang pencinta kamera lubang jarum dipaparkan dalam salam lima jari Bang Roy–yang didapuk ‘ayah’ dari KLJ Pekalongan. Ia paham bagaimana 1) membuat kamera sendiri, 2) paham cara kerjanya, 3) mampu menggunakan ruang gelap, 4) mau berbagi ilmu dengan yang lain serta 5) bersedia menjadi organisator KLJ.

 

Mengutip perkataan Leonardo Da Vinci: “Siapa yang akan percaya, bahwa dari sebuah lubang kecil, kita dapat melihat alam semesta?”

 

Kalau kita percaya, yuk, sambangi Komunitas Lubang Jarum ketika sedang berada di Pekalongan. Lihat bagaimana mereka mengabadikan kota pesisir ini dari balik sebuah lubang jarum!

<< Hobi