Mencicipi Gurih Soto Tauto, Pekalongan

Asap mengepul-ngepul ketika kuah panas dituangkan ke mangkok. Aroma gurih soto berkuah merah pekat ini akan menyambut Anda saat menjejakkan kaki di warung tauto di Pekalongan.

Tauto merupakan salah satu kuliner khas Pekalongan. Dibuat menggunakan bumbu tauco; tauto menghadirkan cita rasa yang unik. Tauco membuat kuah soto jadi lebih kental dan merah dibandingkan soto-soto di Jawa pada umumnya.

Selain rasa gurih tauco yang khas, tauto punya sejarah menarik. Dulunya, tauto dijajakan dengan dibopong para pedagang Tionghoa keluar-masuk kampung. Ya, persebaran soto di Nusantara memang tak lepas dari pengaruh para pedagang Tionghoa. Caudo–dari sinilah kata soto berasal, yang kemudian diserap berbagai daerah sebagai soto, coto, ataupun tauto.

Di Pekalongan, yang penduduknya terdiri dari percampuran Arab, Melayu, dan Cina, kata caudo diserap menjadi tauto. Pun, dengan tambahan rempah tauco ke dalam resepnya. Ketika bertanya apa keunikan lain dari soto tauco ini, kawan asli Pekalongan menjawab: “Dagingnya daging kerbau!”

Kerbau, bukan sapi. Tauto berbahan dasar daging kerbau–bukan daging sapi atau ayam. Mengapa kerbau? Hal ini tak lepas dari sejarah. Pekalongan yang merupakan kota pesisir, kental dengan budaya Hindu-Jawa; sedangkan bagi umat Hindu, sapi adalah hewan yang dianggap suci. Karenanya, pada masa itu beredar larangan tak tertulis untuk menyembelih sapi. Sebagai pengganti, daging kerbau jadi pilihan.

Tauto datang sepaket dengan sepiring nasi hangat. Berbagai gorengan gurih terhidang di meja, sebagai teman mengudap. Tempe goreng berpindah ke piring bersama kerupuk aci, lengkap!

Sebenarnya, tauto biasa disajikan dengan lontong, bukan nasi. Namun, seiring berjalannya waktu, tauto pun luwes mengikuti selera masyarakat Indonesia, dan nasi menjadi pilihan. “Biasanya selalu akan ada lontong di meja,” begitu tutur penduduk lokal Pekalongan.

Benar saja. Selain gorengan dan berbagai macam kerupuk, sepiring lontong pun tersaji di atas meja.

“Kalau makan tauto, ya, di kedai. Jangan di restoran!” ujar seorang kawan lokal dari Pekalongan. Salah satu kedai tauto favoritnya terletak agak di luar kota, tepatnya di Desa Ambokembang Kedungwuni. “Suasana dan rasanya bikin kangen!” ujarnya.

 

<< Kuliner