Menelusuri Bangunan-bangunan Tua di Pekalongan

 Rumah-rumah tua dengan cat yang sudah mengelupas berhadap-hadapan. Pintu-pintu dan jendela yang lahir berbeda abad berdiri kukuh menantang zaman. Mari bernostalgia, mungkin begitu mereka berkata.

Memasuki kawasan Jalan Blimbing, yang berkelok mengikuti Sungai Pekalongan, suasana hening. Anda seperti ditarik untuk kembali ke masa lampau, ketika dulunya jalan ini bernama Jalan Juliana Weeg. Rumah-rumah kuno bergaya Tionghoa masih terlihat di kiri dan kanan jalan yang kini beraspal mulus. Kawasan ini tak semegah dulu, pada masa keemasannya. Namun semua tetap menyimpan cerita menarik untuk disimak.

Pada zaman Kolonial, Jalan Blimbing adalah salah satu perkampungan Tionghoa, bersama beberapa jalan lain seperti Jalan Salak, Jalan Sultan Agung, dan Jalan Hasanuddin. Daerah ini dulunya dinamai “Chinese-Wijk” dan diperuntukkan khusus bagi warga keturunan Tionghoa.

Ketika itu, pemerintah kolonial sengaja mengkotak-kotakkan daerah pemukiman berdasarkan etnis. Tujuannya, agar lebih mudah diatur tingkat populasi dan kriminalitasnya. Hal ini juga berdampak bagi Pekalongan, kota yang telah didaulat sebagai kota kreatif oleh UNESCO ini. Selain kampung Tionghoa, ada juga Kampung Arab yang bisa dikunjungi dengan berjalan kaki ke arah persimpangan Jalan Semarang dan Jalan Surabaya; tepatnya kawasan Sugih Waras, Di sinilah kampung Arab berada.

Kawasan Arab Sugi Waras ini sejak tahun 1950 telah menjadi pusat perdagangan bahan baku kain batik dan tenun. Kampung Arab menjadi saksi bisu sejarah, betapa Pekalongan pernah jaya dengan koperasi batiknya di masa pemerintahan Orde Lama. Masa itu, harga kain mori – kain dasar untuk membatik – di seluruh Indonesia ditentukan dari sini. Sisa-sisa keriuhan pasar itu tak lagi terlihat sekarang. Hanya indsutri batik saja yang masih kian menjamur di daerah ini.

Bangunan-bangunan bergaya art deco juga memenuhi sudut-sudut Kota Pekalongan. Menurut survei tahun 2011, setidaknya ada 286 bangunan kuno yang bisa dikategorikan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB) di kota kecil ini. Bangunan-bangunan tersebut dibangun sekitar tahun 1930 hingga tahun 1970. Investigasi lanjutan pun masih terus dilakukan, sebelum bangunan-bangunan tersebut resmi didaulat sebagai cagar budaya.

Salah satu kawasan bersejarah lainnya adalah Lapangan Utara kota Pekalongan. Sebuah tugu putih kecil di selatan Lapangan Jetayu adalah penanda titik tengah Pulau Jawa. Tugu itu bernama MylPaal; dibangun oleh Gubenur Jendral Daendels pada tahun 1808. Myl dalam bahasa Belanda berarti mil dan Paal adalah titik, penanda bagi Jalan Daendels.

Beberapa gedung tua di kawasan alun-alun, kini telah beralih fungsi dan dipugar kembali. Salah satunya kantor pusat industri gula yang kini menjadi Museum Batik Nasional. Gedung Olahraga Jatayu kini menjadi pusat inovasi Budaya Batik.

Bergerak ke utara, sebuah gedung bercat oranye merupakan Bank pertama yang berdiri di Pekalongan. Gedung sederhana ini kini telah beralih fungsi menjadi Gedung PT. Pertani.

Setelah lelah berputar di sekitar jalan Jetayu, mari berbelok ke arah Jalan Rajawali Utara. Di sana, sebuah pabrik minuman yang berdiri dari tahun 1920 masih beroperasi hingga sekarang. Pabrik Limun Oriental kini dijalankan oleh generasi ketiga. Berita baiknya, Anda masih bisa mencicipi langsung minuman priyayi ini di pabriknya!

Arjati, begitu pemerintah kota Pekalongan menamai kawasan sejarah ini. Arab, Jawa dan Tionghoa adalah tiga etnis yang membuat kota ini tumbuh dan berkembang. Pada bulan April silam, kawasan sejarah ini mulai digalakkan kembali. Arjati Heritage Walk mengajak para muda mudi untuk kembali berkaca dan mempelajari sejarah sambil berjalan-jalan menelusuri kawasan kota tua.

Betapa harmonis kehidupan masa itu. Kelenteng Po An Thian, Gereja Katholik St. Petrus, dan Mesjid Al-Ikhlas hanya berjarak sepelemparan batu di sekitar alun-alun Jetayu. Mungkin ini memang kenang-kenangan sejarah, sekaligus amanah. Berjalan-jalan di sekitar kawasan ini mengingatkan kita bahwa perbedaan, sesungguhnya, adalah berkah.