Menelusuri Warna-Warni Batik Pesisir Pekalongan

Batik pesisir, demikian sebagian orang menamainya. Ditandai dengan warna-warninya yang ceria dan mencolok, batik pesisir memang berbeda dengan batik Jogja atau Solo yang umumnya didominasi warna gelap, seperti coklat dan hitam.

Terletak di pesisir pantai Pulau Jawa, Pekalongan yang pada masa lampau merupakan salah satu kota pelabuhan dan perdagangan yang ramai, memungkinkan interaksi intens antara pendatang, pedagang asing, dan masyarakat lokal. Persentuhan budaya inilah yang kemudian memengaruhi corak dan warna batik Pekalongan seperti yang kita kenal sekarang ini. Budaya Belanda, Cina, Arab, bahkan Jepang, meninggalkan jejaknya dalam batik-batik sepanjang pesisir Jawa.

Salah satu motif batik yang terkenal dari Pekalongan adalah buketan. Buketan berasal dari bahasa Belanda dan Perancis “bouquet”, yang berarti rangkaian bunga. Eliza Van Zuylen adalah perempuan Belanda yang memperkenalkan batik motif ini sejak tahun 1890. Corak bunga Eropa menjadi ciri khas batik buket Van Zuylen. Batik Van Zuylen merupakan salah satu batik paling terkenal di masanya, dan sudah sulit untuk didapatkan saat ini. Harganya pun sangat mahal, sehingga biasanya hanya menarik para kolektor batik yang serius.

Ada pula batik Peranakan atau yang oleh masyarakat Pekalongan lebih dikenal dengan Batik Encim. Dari namanya, tentu Anda bisa menebak asal dari batik ini. Batik encim adalah asimilasi budaya Jawa dan Tionghoa yang kemudian berpadu membentuk budaya baru di pesisir Jawa

Warna-warni pastel dari batik encim sering kali diidentikkan dengan warna-warni khas dari porselen Cina. Bunga teratai, burung hong, ataupun naga menjadi ciri khas motif-motif batik peranakan. Ciri khas lain dari batik Peranakan adalah isen atau motif pengisi yang sangat rapat dan begitu detil. “Mreket-mreket…” demikian kata masyarakat Pekalongan, dengan bahasa Jawa yang kental. Salah satu pembatik Tionghoa yang karyanya begitu halus dan selalu diburu adalah Oey Soe Tjoen.

Pendudukan Jepang atas Indonesia, lagi-lagi memberi warna tersendiri pada batik Pekalongan. Pola yang mereka tinggalkan dikenal dengan nama Hokokai. Batik ini biasanya memiliki corak bunga sakura dan kupu-kupu, tentunya juga dengan isen-isen yang tak kalah detail.

Harga tekstil yang demikian mahal juga membuat munculnya gaya pagi-sore. Artinya, terdapat dua motif besar yang berbeda pada satu kain. Biasanya, motif di bagian yang satu berwarna cerah dan di bagian lain berwarna lebih gelap. Tujuannya, agar kain dapat digunakan pada kesempatan yang berbeda, baik pada pagi maupun sore hari. Persis seperti namanya. Pembatik yang terkenal dengan motif ini adalah Lim Ping Wie.

Pengaruh budaya Arab dan India Gujarat di Pekalongan juga membawa motif Jlamprang, yang desainnya mirip dengan motif kain-kain asal Gujarat (motif Patola)–dan bersifat geometris. Dalam budaya Arab Muslim, motif Jlamprang kabarnya digunakan karena keengganan mereka menggunakan motif atau ornamen makhluk hidup/bernyawa dalam desain batiknya–sesuai kepercayaan yang mereka anut. Untuk itu, dipilihlah pola-pola geometris yang rumit dan apik.

Semua motif itu  kini dikenal menjadi bagian dan ciri khas batik Pekalongan, atau batik pesisir.

Tak heran jika warga Pekalongan begitu bangga dengan batiknya. Bak ibu pada anak, demikian batik dijunjung di sini. Batik menjadi citra diri, tradisi yang sudah mendarah-daging. Aset berharga yang begitu lekat dan selalu digunakan dalam berbagai kesempatan.

Batik itu kebutuhan,” begitu kata seorang kawan dari Pekalongan.