Mengasuh Kopi Bersama Owa Jawa

Cahaya pagi menyelinap di antara rimbun pepohonan Hutan Soko Kembang. Pekik primata kecil serupa monyet yang disebut Owa Jawa memenuhi hutan di pagi hari. Dari dahan satu ke dahan lain, mereka berloncatan dengan riang gembira. Di bawah sana, rindang tanaman kopi tumbuh alami. Inilah kebun kopi Petungkriyono.


Kawasan Hutan Soko Kembang di Kecamatan Petungkriyono yang berhawa sejuk terletak di Kabupaten Pekalongan. Hutan yang masih menyatu dengan dataran tinggi Dieng ini berada sekitar 40 km di Selatan Kota Pekalongan. Persawahan warga dan jajaran pegunungan hijau akan menemani dua jam perjalanan berkelok-kelok menuju kawasan ini.


Udara segar menyambut begitu kita menginjakkan kaki di Kecamatan Petungkriyo. Ketinggian 900 – 1600 mdpl memang menjadikan kawasan ini sesuai untuk bertanam. Tak salah rasanya jika dulu Belanda memilih kawasan ini sebagai perkebunan kopi. Tanaman kopi yang ditinggalkan pemiliknya ini kemudian berbaur dengan flora dan fauna di kawasan hutan lindung. Perlahan, di hutan Soko Kembang yang membentang sejauh 6.000 hektar ini, terciptalah kebun kopi alami.


Hutan Soko Kembang juga menjadi habitat nyaman bagi Owa Jawa (Hylobates moloch). Spesies Owa yang paling langka di dunia ini biasanya memakan buah-buahan, daun, dan bunga-bunga hutan. Banyaknya air terjun dan suburnya kawasan Soko Kembang menjadikannya ekosistem yang tepat untuk Owa Jawa. Satwa endemik Pulau Jawa inilah yang awalnya lebih dahulu mencuri perhatian warga ketimbang kopi. Warga sekitar dulu memburu dan menjual Owa Jawa sebagai sumber penghidupan.


Untungnya, perlahan-lahan, dengan edukasi, warga sekitar mulai paham tentang pentingnya menjaga primata kecil tak berekor ini. Primata berbulu abu-abu kehitaman yang terancam punah ini butuh dilindungi. Kesadaraan inilah yang kemudian memunculkan gagasan untuk mengolah kebun kopi alami yang ada di hutan.


Adalah Pak Tasuri, warga desa asli Soko Kembang–yang menjadi pionir pembuatan Kopi Petungkriyono. Hal ini jugalah yang akhirnya membuat Kopi Petungkriyono mendapat sebutan kopi Owa. Kopi yang diasuh warga, demi menjaga kelestarian Owa Jawa.


Kopi Owa ini tersebar di beberapa dusun seperti Desa Tlogohendro, Tlogopakis, Yosorejo, dan Kasimpar. Tanaman kopi yang paling dominan di kawasan Soko Kembang ini berjenis robusta. Meski demikian, terdapat juga jenis-jenis kopi lain seperti Arabica, Riberica, dan Exelsa.


Rasa manis dan aroma gula aren menjadi ciri khas dari suguhan kopi Petungkriyono ini. Jika boleh menebak, mungkin dendangan nyaring dari Owa Jawa di kejauhan jugalah yang membuat kopi ini bertambah nikmat jika dinikmati langsung di pinggir hutan. Pujian tentang kenikmatan kopi ini juga diluncurkan oleh Ann Kwang, Duta Besar dari Korea Selatan pada acara Diplomat Friendly Gathering Night, dua tahun silam.


Kopi yang tumbuh alami di hutan ini tentunya organik. Komposnya hanya humus murni tanpa ada semprotan bahan kimia. Penasaran dengan rasa kopi yang tumbuh dan diasuh bersama Owa Jawa ini? Satu bungkus kopi Arabica ukuran 100 gram dibandrol seharga Rp.20.000,-, sedangkan kopi Robusta Rp.15.000,- saja.


Bagi para penggila kopi yang mencari lebih dari sekadar rasa, datanglah ke kebun kopi Petungkriyo pagi-pagi sekali. Sekitar pukul 6 sampai 8 pagi, akan ada nyanyian merdu nan nyaring dari para primata unik ini untuk Anda. Owa Jawa yang tinggal dalam kelompok kecil akan bersahut-sahutan seperti paduan suara profesional. Sepoi-sepoi angin pagi, aroma kopi gula aren, udara sejuk pegunungan, derasnya aliran air terjun, hijaunya hutan Soko Kembang, dan koor Owa Jawa… apalagi namanya kalau bukan pengalaman eksklusif?


Setelah menikmati kopi pagi diiringi nyanyian Owa Jawa, Anda juga dapat berpetualang di Soko Kembang. Terdapat berbagai objek wisata menarik untuk dikunjungi seperti Curug Sibedug, Welo River, Curug Bajing, Curug Muncar, dan masih banyak lagi. Siapa tahu di tengah perjalanan Anda juga dapat bertemu langsung dengan salah satu primata penghuni hutan ini, seperti Owa Jawa, Lutung Jawa, Rekrekan (Surili), atau Makaka.


“Mari kemari, minum kopi dan lindungi kami!” mungkin itu yang tiap pagi dinyanyikan Owa Jawa di Soko Kembang, rumah kedua terbesarnya setelah Taman Nasional Gunung Halimun.

<< Alam