Menikmati Teh di Kebun Teh Pagilaran

Hamparan kebun teh yang ditingkahi angin pegunungan menyambut Anda ketika memasuki area ini. Aroma teh meruap di udara. Selamat datang di surga teh Pagilaran, sekitar 1.5 jam berkendara dari Pekalongan.

Di lereng Gunung Kemulan, terhampar kebun teh seluas 1.113 hektar. Bukan sembarang kebun teh pula. Kebun teh yang sudah beroperasi sejak tahun 1899 ini merupakan salah satu  pengekspor teh terbanyak di Indonesia.

Tak main-main, produksi kebun teh ini mencapai 8.000 ton daun teh dalam setahun. Di bawah brand Sigma, kebun ini mengirim teh hitam yang diproses secara ortodoks dan teh hijau kualitas premium ke Amerika, Inggris, Rusia, dan Jepang.

Mengapa tak dipasarkan di Indonesia?
Kabarnya, konsumen dalam negeri lebih menyukai teh wangi yang biasanya dicampur dengan melati–ketimbang teh hijau atau hitam.

Meski demikian, PT Pagilaran juga memiliki produk yang dipasarkan secara lokal, dengan nama Kepodang dan Sigma Rasa. Teh-teh ini belum dijual luas, namun sudah dapat dibeli langsung di Koperasi Karyawan saat bertandang ke PT Pagilaran.

Kebun teh PT Pagilaran sendiri menghasilkan teh hitam, hijau, dan merah. Ada dua kualitas teh di sini: premium, dan medium. Kualitas premium merupakan teh yang dihasilkan hanya dari daun teh, tanpa batangnya. Rasa tak berbohong. Teh premium mempunyai cita rasa yang lebih pekat dan kuat.

Kebun sekaligus pabrik teh yang berlokasi di Kabupaten Batang ini berada pada ketinggian 800-1.100 mdpl, dan pertama kali didirikan oleh seorang berkebangsaan Belanda. Kepemilikannya sempat diambil alih Pemerintah Belanda, dan pabriknya juga pernah terbakar dan berganti kepemilikian di bawah bendera Inggris.

Pada tahun 1964, perkebunan ini diserahkan kepada Universitas Gajah Mada, dan diperuntukkan sebagai sarana penelitian. Sejak itu hingga kini, namanya berganti menjadi PT Pagilaran; dan Universitas Gajah Mada menyulap perkebunan teh ini menjadi laboratorium, pabrik, sekaligus wahana agrowisata.

Perkebunan teh Pagilaran memang seperti surga bagi para pecinta teh. Bagaimana tidak, Anda dapat mencicipi teh kualitas premium, langsung di kebunnya. Pak Sugiono, seorang peneliti dari Laboratorium teh Pagilaran membuka stan teh gratis setiap Minggu agar orang-orang bisa mencoba rasa teh yang ‘enak’.

Teh premium yang disesap sambil menghirup udara pegunungan yang sejuk dan bersih?

Siapa yang bisa menolak?

Fasilitas yang tersedia di kebun teh ini juga cukup mumpuni. Dari homestay sampai villa bisa menjadi pilihan tempat bersantai. Anda bisa duduk manis saja menyesap teh, tracking berkeliling kebun, atau melihat-lihat proses produksi dan pengemasan teh di pabrik.

Jika Anda gemar bangun pagi dan bertualang, Anda juga bisa menyusuri keindahan alam di sekitar kebun teh ini dan mampir di salah satu air terjun tak jauh dari sana. Saat ini, Pagilaran juga sudah melengkapi dirinya dengan aneka wahana seperti flying fox dan rafting.

Untuk mencapai kebun teh ini, Anda bisa menumpang kendaraan umum dari Batang menuju Bandar, lalu lanjut ke Blado dan akhirnya Pagilaran. Bagi pengguna kendaraan pribadi, jarak kebun teh ini hanya sekitar 90 menit berkendara dari pusat kota Pekalongan–atau sekitar 2,5 jam dari Semarang.

Demi segelas teh kualitas prima, udara segar, dan pemandangan pegunungan yang menyejukkan mata, tentu jarak tak jadi masalah, bukan?

Oh ya, ada mitos yang mengatakan bahwa teh Pagilaran enak rasanya karena diseduh dengan air dari mata air Pagilaran. Anda tertarik mencicipinya sendiri?

<< Alam