Martabak apa yang paling melegenda di Pekalongan? Orang lokal tanpa ragu pasti menjawab: Martabak Ibrahim.   Sebenarnya, martabak yang dikenal di Indonesia memang sedikit berbeda dengan martabak yang ada di luar negeri. Di Singapura atau Timur Tengah, martabak biasanya mengacu kepada martabak asin; atau martabak telur. Berbeda dengan varian martabak manis di Indonesia, yang lebih…
Nasi pulen hangat yang mengepul-ngepul disendokkan ke dalam daun pisang. Cacahan nangka muda–atau gori ditambahkan di atasnya. Tempe mendoan dan teh hangat sebagai pelengkap. Duh, nikmatnya! Itulah Sego Megono, makanan khas kawasan Pantai Utara Jawa (Pantura), termasuk Pekalongan. Nasi rakyat ini sering juga disebut dengan Nasi Gori. Legendanya, sego megono atau nasi megono ini muncul…
Bangunan tua bergaya art deco di Jalan Jetayu 1, Pekalongan, menyimpan 1.149 koleksi batik Nusantara. Tujuannya, memberi pengetahuan dan pengalaman bersentuhan lekat dengan batik–memastikan batik sebagai karya adiluhung yang menjadi identitas Bangsa Indonesia tetap lestari. Setua sejarah batik yang telah mendarah daging di kota ini, setua itu pula bangunan yang dipilih untuk menjadi Museum Batik…
“Laa ilaaha illallah” terlantun merdu di malam-malam tertentu di Pekalongan. Kota Batik yang juga dikenal dengan kota santri ini memang kental dengan kultur Islaminya. Salah satunya adalah ritual Tahlilan–yang kemudian melahirkan segelas kopi Tahlil. Tahlil secara harafiah berarti berzikir dengan terus mengucapkan kalimat tauhid. Ritual ini biasanya dilakukan untuk mendoakan arwah orang yang sudah meninggal…
Bersama ombak, pantulan senja pada permukaan laut semakin melebar dan meninggi. Seperti tak ingin kalah, angin laut berhembus membelai wajah. Selamat pagi dari wisata bahari Pekalongan! Terletak 4 kilometer dari pusat kota Pekalongan, Wisata Bahari Pekalongan menjadi tempat yang tepat untuk bersantai sejenak. Sejak diresmikan pada tanggal 16 Juli 2006, kawasan ini memang menjadi salah…
“Limun beruapnya diminum dulu… ” demikian ucap tuan rumah dengan bangga saat menjamu tamunya ketika Lebaran. Ya, puluhan tahun lalu, dentingan botol-botol kaca limun ini memiliki pamornya tersendiri. Minuman mewah yang tak mampu terbeli sembarang orang. Minuman priyayi Jawa yang umurnya hampir seabad ini telah mengarungi pasang-surut zaman. Sebagai pelopor minuman dalam botol pertama, Limun…
Hamparan kebun teh yang ditingkahi angin pegunungan menyambut Anda ketika memasuki area ini. Aroma teh meruap di udara. Selamat datang di surga teh Pagilaran, sekitar 1.5 jam berkendara dari Pekalongan. Di lereng Gunung Kemulan, terhampar kebun teh seluas 1.113 hektar. Bukan sembarang kebun teh pula. Kebun teh yang sudah beroperasi sejak tahun 1899 ini merupakan…
Batik pesisir, demikian sebagian orang menamainya. Ditandai dengan warna-warninya yang ceria dan mencolok, batik pesisir memang berbeda dengan batik Jogja atau Solo yang umumnya didominasi warna gelap, seperti coklat dan hitam. Terletak di pesisir pantai Pulau Jawa, Pekalongan yang pada masa lampau merupakan salah satu kota pelabuhan dan perdagangan yang ramai, memungkinkan interaksi intens antara…
 Rumah-rumah tua dengan cat yang sudah mengelupas berhadap-hadapan. Pintu-pintu dan jendela yang lahir berbeda abad berdiri kukuh menantang zaman. Mari bernostalgia, mungkin begitu mereka berkata. Memasuki kawasan Jalan Blimbing, yang berkelok mengikuti Sungai Pekalongan, suasana hening. Anda seperti ditarik untuk kembali ke masa lampau, ketika dulunya jalan ini bernama Jalan Juliana Weeg. Rumah-rumah kuno bergaya…