Serabi Kali Beluk, Serabinya Kejujuran

Beberapa makanan menjadi terkenal karena rasanya yang tak terlupa. Kudapan lain menjadi tenar karena bentuknya. Ada juga jenis makanan yang jadi ternama karena legenda di baliknya. Bukan sembarang legenda: serabi berukuran tidak biasa ini mengingatkan kita tentang kejujuran.

 

Sebagai nama makanan, Kali Beluk tentu terdengar tidak biasa di telinga. Nama tersebut, sebenarnya berasal dari nama Desa Kali Beluk, tempat serabi Kali Beluk yang tersohor itu kabarnya pertama kali dibuat. Desa kecil yang berada di Kabupaten Batang ini terletak di sebelah Timur Kota Pekalongan.

 

“Ciri khas serabi Kali Beluk ini, bentuknya besar. Selain serabi ini bentuknya itu kecil dan biasa berbahan gandum atau terigu,” kata Ibu Surini, salah seorang penjual serabi Kali Beluk dalam bahasa Jawa yang kental.

 

Serabi Kali Bekuk sendiri dipercaya telah diproduksi sejak zaman kerajaan Mataram. Resep wasiat tentang cara memasak layaknya harta berharga yang diturunkan dari nenek dan ibu kepada anak-cucu. Sebuah legenda yang dituturkan dari mulut ke mulut juga menceritakan hal yang sama.

Kisah legenda tentang serabi Kali Beluk justru dimulai di desa tetangga yang bernama Desa Kali Salak. Kecantikan Dewi Rantan Sari yang tinggal di Desa Kali Salak, alkisah membuat Sultan Mataram ingin memperistrinya. Sultan Mataram yang ketika itu bernama Sultan Agung Hanyokrokusumo kemudian memerintahkan Bhahurekso untuk melamar sang dewi.

 

Berangkatlah Bhahurekso yang juga dikenal dengan sebutan Joko Bau menuju Desa Kali Salak. Bertemu langsung dengan Putri Mbok Rondo nan jelita ini membuat Bhahurekso berubah pikiran. Dewi Rantan Sari lantas diperistri sendiri olehnya. Dalam rangka menyelamatkan muka pada Sultan Mataram, dicarilah seorang perempuan jelita lain. Tersebutlah Endang Wiranti yang kecantikannya mampu menyamai Dewi Rantan Sari. Endang adalah anak dari seorang penjual serabi yang tinggal di Desa Kali Beluk.

 

Awalnya, Endang setuju untuk menggantikan posisi Dewi Rantan Sari dan menikahi Sultan Mataram. Namun ketika berhadapan langsung dengan Sultan, hati nurani Endang tak tenang. Endang merasa bersalah dengan kebohongan yang dilakukannya. Setelah pingsan karena tak mampu menahan perasaan berdosa, Endang pun mengaku. Kejujuran Endang ini dihargai oleh Sultan. Endang dipulangkan ke Desa Kali Beluk dengan dibekali uang. Dengan uang inilah Endang mampu meneruskan usaha serabi keluarganya. Sebagian orang percaya, masyarakat Kali Beluk adalah kerabat dari Endang Wiranti.

 

Apakah legenda ini benar adanya?

Entahlah. Satu yang pasti, dari dulu hingga sekarang, bentuk dan rasa Serabi Kali Beluk tak pernah berubah. Cetakan-cetakan tanah liat masih tetap menjadi wadah panggang dari kudapan tradisional ini. Serabi masih dibakar menggunakan kayu bakar. Jenis bahan yang digunakan juga masih sama.

 

Jika ada yang berubah, dulu banyak penjual serabi masih menggunakan alu untuk menumbuk beras jadi tepung. Namun saat ini sudah ada mesin sederhana yang bisa membantu menumbuk tepung beras.

 

Bahan-bahan pembuatan serabi ini sebenarnya sangat sederhana. Campurkan tepung beras dengan kelapa yang diparut hingga halus. Lalu tuangkan santan yang sudah diberi perasan daun pandan agar lebih wangi. Tambahkan juga air dan sedikit garam. Untuk serabi cokelat, bubuhkan campuran gula aren. Gula pasir menjadi pilihan untuk serabi yang bewarna putih. “Biasanya lebih laku yang gula aren…” ujar Pak Yatin, salah seorang penjual Serabi Kali Beluk.

Wangi dari santan dan gula aren segera tercium dari dapur sederhana di Desa Kali Beluk. Serabi-serabi yang sudah matang dikeluarkan dari cetakannya untuk didinginkan. Satu persatu disusun rapi pada tatakan bambu yang berada di samping tungku bakar. Semerbak!  

 

Serabi yang jadi makanan khas Batang dan Pekalongan ini dapat ditemukan di Pasar Warungasem Kabupaten Batang. Per linting atau per tangkupnya dijual tak sampai Rp.10.000,- rupiah. Ukurannya yang sebesar telapak tangan membuat kudapan ini pas untuk disantap bersama-sama. Dipotong kecil-kecil dan jadikan teman untuk ngeteh atau ngopi sore. Paling pas dimakan dalam keadaan hangat.

Sambil merasakan sensasi cemilan kuno ini, coba bayangkan, secantik apa sih Endang Wiranti?

 

<< Kuliner