Batik Oey Soe Tjoen, Harga Selembar Ketekunan

“Butuh 3 tahun untuk membuat sehelai kain batik,” ujar Widianti Widjaja dar batik Oey Soe Tjoen sambil membentangkan beberapa kain yang belum lagi selesai. Pernyataannya seakan menjelaskan mengapa batik Oey Soe Tjoen begitu mahal.

Ya, perkembangan seni dan industri batik di Pekalongan memang tak bisa lepas dari peran serta para perajin dan seniman batiknya. Oey Soe Tjoen adalah salah satunya. Memulai usaha batiknya pada 1925, Oey Soe Tjoen terkenal dengan motif-motif khas batik peranakan seperti buketan, pagi-sore, dan hokokai.

Foto milik Widianti Widjaja

OST, begitu nama Oey Soe Tjoen biasa disingkat, telah mengharumkan nama Pekalongan dengan batik mahakarya-nya ke berbagai pelosok dunia.

Keindahan pada batik OST terlihat jelas dari goresan yang ditarik rapi dan bagian demi bagian yang diwarnai dengan teliti.

“Dalam setahun, kami cuma bisa menghasilkan 25 helai kain batik,” ujar Widianti, generasi ketiga yang kini melanjutkan usaha batik OST. Untuk Widianti, menerima pesanan memang seumpama mengambil hutang yang harus dilunasi.

“Iya, saya pernah merusak 13 lembar kain yang hampir jadi,” kenangnya, ketika mengingat awal karirnya menggantikan sang ayah yang berpulang pada bulan October 2002. “Ya, diganti. Mau gimana lagi. Janji itu kan hutang yang mesti ditepati,” ia tertawa.

Selembar kain batik tulis yang dibuat selama 3 tahun memang bicara soal keuletan dan kesabaran dalam tiap proses pengerjaan yang tak boleh diburu-buru. Harga yang disematkan tak lebih dari sebuah penghargaan atas ketekunan, ketelitian, dan dedikasi memelihara pengetahuan yang diwariskan.

Foto milik: Widianti Widjaja

“Terdengarnya saja ‘wah’, padahal kalau dihitung tidak seberapa. Saya kan harus memberi makan 15 pekerja saya…” ujar Widianti seraya tersenyum.