Botok Setan Legendaris

Rasa manis dengan segera tergantikan pedas yang menggigit pada suapan pertama. Ya, rasa pedas Botok Setan yang samar pada suapan awal ini tak jarang memberi efek kejut, sekaligus membuat ketagihan. Manis berujung pedas. Di sinilah letak kenikmatan Botok Setan legendaris di Pekalongan ini.

Bunyi gemeretak kayu yang terbakar api menemani Adji mengaduk adonan botoknya. Di dapur inilah, setiap harinya, 200 porsi Botok Setan dihasilkan.

“Mbah Isah itu nenekku…” kata Adji sambil menunjuk sosok perempuan lanjut usia yang duduk di seberang dapur. Mbah Isah yang saat ini berumur lebih dari 100 tahun, tak lagi bisa mendengar jelas, namun masih mampu tersenyum manis. Botok Setan di Desa Comal ini memang merupakan usaha turun-temurun yang dimulai Mbah Isah. Kini, usaha ini dijalankan Adji, cucu Mbah Isah, dan ibunya, Ibu Masria.

“Botok artinya sayur,” kata Adji. Botok berisi tahu, parutan kelapa, dan bongkrek. Nama ‘setan’ yang tersemat di belakang botok ini merujuk pada tingkat kepedasannya. Bayangkan, Botok Setan racikan Mbah Isah ini memerlukan 10 kilogram cabai hijau setiap harinya!

Botok setan Mbah Isah sudah punya penggemarnya sendiri. Sedari pagi, ketika panci-panci botok baru mulai disusun di samping rumah sederhana mereka, para pembeli sudah datang berduyun-duyun. Ya, kadang kala, 200 porsi botok setan yang disiapkan bisa ludes bahkan sebelum tengah hari.

Ketika kami bertanya apakah mereka menerima pesanan, Adji berkelakar, “Hidup dinikmati sajalah. Sehari 200 saja, cukup. Memang saya belum siap kaya sepertinya…” Ini juga yang membuat Botok Setan Mbah Isah tak bisa ditemui di tempat lain, kerena mereka tak membuka cabang.

Seporsi Botok Setan Mbah Isah dapat dinikmati dengan harga Rp. 7,000,- rupiah saja, dan paling pas dinikmati dengan kerupuk pasir. Gurih dan pedas, awas ketagihan!

<< Kuliner