Festival Lopis Raksasa

Selain terkenal sebagai Kota Batik, Pekalongan juga dikenal sebagai Kota Santri. Dengan mayoritas penduduknya yang beragama Islam, beberapa tradisi keagamaan masih dipertahankan di kota ini. Salah satunya adalah perayaan Syawalan.

Di Pekalongan, Lebaran, sebagai hari raya terbesar umat Muslim diperingati tak hanya untuk 1-2 hari; namun hingga sepekan setelahnya. Akhir minggu dari perayaan inilah yang dinamakan Syawalan. Sebagai penutup masa yang membahagiakan, Syawalan di Pekalongan dirayakan meriah.

Salah satu tradisi menarik yang kerap dinanti warga Pekalongan setiap Syawalan adalah Festival Lopis Raksasa. Di Krapyak, Gang 8, tradisi membuat kue lopis ini sudah dilakukan secara turun-temurun sejak berpuluh tahun silam.

Kue lopis raksasa dibuat dengan urunan dana dan tenaga dari warga kampung Gang 8, Krapyak. Semua warga saling membantu selama proses pembuatan kue lopis raksasa ini, yang bisa memakan waktu berhari-hari. Proses ini menjadi ajang kekeluargaan yang hangat dan mencerminkan semangat gotong-royong. “Lengket seperti lopis,” demikian Bapak Ketua RT Gang 8 menggambarkan warganya.

Pada Festival Lopis Raksasa, para pengunjung akan mendapatkan potongan lopis yang dibagikan secara cuma-cuma. Tak hanya itu, penduduk sekitar Kampung Krapyak juga membuka rumah mereka untuk siapa saja yang hendak berkunjung. Tentu, rumah-rumah ini telah dihias cantik dan cemilan lezat terhidang untuk para tamu. Tuan rumah akan tersenyum menyambut siapa saja yang singgah. Suasana kampung terasa gembira dan meriah.

Tahun 2019 ini, berat Lopis Raksasa Krapyak mencapai 1.6 ton. Tingginya 200 cm, dengan diameter 250 cm. Gubernur Jawa Tengah, Pak Ganjar Pranowo, juga hadir dalam festival ini. “Ini bukan sekadar lopis. Proses gotong-royong dalam pengerjaannya menjadi ajang pemersatu bagi warga. Tradisi positif ini akan saya viralkan!”