Minggon Jatinan: Pasar Ramah Lingkungan di Tengah Hutan Jati

Hutan Kota Rajawali, yang biasa disingkat HKR, adalah ruang terbuka hijau di tengah kota Batang. Hutan seluas 2 hektar yang ditumbuhi pepohonan jati ini, kini juga menjadi arena bagi Pasar Minggon Jatinan–pasar tradisional yang menawarkan pengalaman kembali ke masa lalu sambil mencicipi aneka kuliner tradisional khas Batang dan Pekalongan.

Pasar Minggon Jatinan merupakan pasar mingguan yang digelar di bawah rindang pepohonan jati HKR. Diinisiasi Madrasah Bisnis dan PKK Batang, Pasar Minggon Jatinan rutin diadakan sejak April 2018 silam.

Selain menawarkan kuliner tradisional yang bisa dinikmati di tengah rimbunnya pepohonan, Pasar Minggon Jatinan juga menawarkan keunikan lain: kembali ke masa lalu! Ya, di sini, proses jual-beli dilakukan menggunakan lempengan koin yang terbuat dari tanah liat, dan disebut kreweng–seperti uang koin zaman dahulu. “Mau berapa kreweng, Mbak? Satunya dua ribu rupiah,” ujar petugas yang berjaga di meja depan.

Hal luar biasa lainnya dari Pasar Minggon Jatinan, adalah komitmen mereka menjaga lingkungan. Ya, para penjual di pasar ini tidak diperbolehkan menggunakan kemasan plastik. Semua berganti dengan kemasan tradisional seperti daun pisang atau daun jati. Untuk gelas, digunakan gelas kaca atau gelas dari batok kelapa. Kantong keresek berganti dengan keranjang bambu yang bisa dibeli dengan harga bersahabat.

Pasar yang buka sejak pukul 6 pagi ini menwarkan berbagai makanan dan jajanan tradisional, seperti Serabi Kalibeluk, Wajik Klethek, Rujak Bebek, Mie Kenyol, Lumpia Siram Sambal Kacang, Jenang, Soto Buah Naga, Kopi lokal, dan masih banyak lagi.

Oh ya, ada keunikan lain dari Pasar Minggon Jatinan! Para penjualnya memakai baju tradisional, lho! Yang perempuan berkebaya batik jingga, dan yang lelaki berlurik dan memakai blankon. Piknik di tengah hutan dikelilingi jajanan lezat sambil menikmati suasana ramah Pasar Minggon Jatinan di Batang memang bisa jadi pilihan yang menyenangkan untuk menikmati hari Minggu di Pekalongan!